Merdeka Belajar Dipertanyakan, Sejauh Mana Pelajar Menatap Masa Depan

 


Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, semua rencana telah terbendung dan hanya menjadi ekspetasi belaka. Semua kegiatan dipastikan terus berjalan, bagaimanapun kondisi, pendidikan perlu terus digalakkan. Maret, april, mei hingga september menjadi sekejap mata, bahkan tak terasa telah tercoretnya banyak mimpi dan rencana.


   Pak Nadiem selaku nahkoda penunggang kuasa, dimana pendidikan Indonesia akan dibawa ke arah mana. Secara cepat, partisipatif, dan bertahap, dari pembelajaran tatap muka, sistematika diubah menjadi pembelajaran jarak jauh, atau PJJ kita menyebutnya.

   Program belajar dari rumah menjadi langkah agar pendidikan tidak diam dalam keadaan labil dan sulit direka. Didukung dengan fasilitas materi lewat tv edukasi, bantuan kuota, penyederhanaan kurikulum, menjadikan siswa kembali bersekolah dalam keadaan apapun. Terbatasnya komunikasi sehingga waktu yang ada dimaksimalkan sebaik-baiknya, bahkan ketika pembelajaran, kita dipaksa menatap layar handphone seharian.

   ‘Seiring waktu berjalan, semakin banyak tugas yang diberikan’ mungkin itu pepatah yang tepat ketika membicarakan uneg-uneg pelajar jaman sekarang, tidak ada ujian besar-besaran, namun kita dituntut menguasai semua mata pelajaran, lewat tugas-tugas yang memborbardir setiap jam.

   Tugas dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) memiliki arti yaitu yang wajib dikerjakan atau dilakukan; pekerjaan yang menjadi tanggung jawab seseorang; pekerjaan yang dibebankan; suruhan (perintah) untuk melakukan sesuatu; fungsi yang harus dikerjakan. Jika dilingkup pelajar sendiri, tugas diartikan sebagai pemantik pemahaman, apakah dapat mengaplikasikan dalam berbagai soal, atau menampungnya dalam wawasan suatu bidang pelajaran.

   Sekali lagi, saya tegaskan mewakili siswa yang bersekolah sampai bulan ke 4 tahun ajaran baru. Bersekolah bisa diibaratkan seperti pepatah ‘Hidup segan, mati tak mau’ beberapa guru masih menggunakan sistem mengajar konvensional, dengan cara memberikan buku kepada siswa, kemudian diberikan waktu untuk membaca, setelah beberapa menit baru diajukan pertanyaan, dan akhirnya dibahas secara berkelompok mana yang benar. model belajar ini sangat tidak cocok diterapkan ketika daring dengan terbatasnya waktu untuk sebuah mata pelajaran.

   Ada juga tipe lain yang lebih seru, dan sedikit menyebalkan. Ada juga pendidik yang mengajarnya hanya menayangkan power point, atau vidio di youtube dibagikan linknya kepada teman-teman. Kemudian kami sebagai siswa diminta untuk melihat, merasa, dan berharap. Bahwa dengan melihat vidio tanpa bertanya, kita dipaksa membungkam mulut dalam sesulit apapun soal yang ada. Bahkan jika kita tidak paham yang dijelaskan tentang apa.

   Serasa guru leha-leha bersantai di pesisir pantai, dan siswa terdampar di pulau tak berpenghuni. Bertanya tak ada orang, bersuara tidak ada yang mendengar.

   Miris sekali!

   Tidak perlu saling menyalahkan, sekarang kita beralih sudut pandang. Sebagai siswa yang melaksanakan kegiatan belajar daring ini, kita diharuskan untuk selalu dekat dengan gawai, jika dulu sepanjang hari bermain gawai dimarahi, sekarang tidur malam, di depan layar, berpangku buku, didukung sepenuh hati.

   Mudah banget gitu, orang bisa berganti sudut pandang kepada kegunaan sebuah benda untuk menyikapi keadaan, dengan notabene berupaya menyesuaikan dengan kebutuhan. Namun dengan semakin tingginya tingkat toleransi orang tua kepada anaknya, tak lepas dibarengi dengan sikap sang buah hati dalam penggunaan yang tepat dan kenal waktu. Masih saja anak-anak bahkan tak sedikit yang sudah dijenjang SMP sering tergiur untuk sekedar melepas waktu belajar untuk bermain game online, streaming film, scrolling sosial media, dan hal-hal kurang bermanfaat lainya.

   Dengan sistem belajar daring yang belum juga matang. Baik dari segi kepribadian siswa, atau sistem mengajar, menjadikan masalah-masalah kecil yang tak terasa semakin lama menjadi momok buruknya sistem pembelajaran jarak jauh. Jika dikatakan siap, Indonesia belum benar-benar siap melakukan kegiatan pembelajaran daring, semua disusun secara seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya, guna memotong waktu, dan pelajar terus menjamu ilmu.

   Kita tidak bisa menyalahkan baik dari pemerintah, ketidaksiapan sekolah, sistem mengajar guru, dukungan orang tua, bahkan sisi internal siswa itu sendiri. Yang bisa kita lakukan adalah mengevaluasi dan membenahi diantaranya :

1. Penipisan makalah, pemusatan masalah, perbaikan pemerintah 

   Kepada Pak Nadiem dan para jajarannya dimohon untuk lebih mendengarkan semua permasalahan. Pemutakhiran data dalam birokrasi perlu dipercepat, tak perlu banyak bicara, langsung keluarkan saja anggaran, dan keputusan yang menurut keadaan paling diperlukan di lapangan.

   Banyak yang perlu dibenahi kembali. Mulai dari akses internet, pemermudahan dalam data online, perampingan kurikulum, pemerataan teknologi, sensus keberhasilan suatu sistem pengajaran, dan aspek-aspek penunjang lainya.

2. Pengajar yang berkompeten

   Dalam kondisi daring seperti ini, peran pengajar atau guru dalam kelas memang perlu berkembang, tidak bisa jika hanya menggunakan konsep lama. Merdeka belajar telah berkali-kali diteriakkan lewat berbagai sosialisasi yang telah diadakan, tinggal pengajar dan pelajar yang harus ikut andil dalam menghidupkan kelas ketika pembelajaran.

   Guru yang aktif, kreatif, dan memahami keadaan, menjadi hal yang perlu ditanamkan kepada semua pengajar. Hal ini tak lain agar memiliki rasa empati dan simpati, tidak menuntut semua tugas-tugas diselesaikan, namun diberikannya sebuah keringanan. Mungkin bisa dengan cara ditugasi membuat peta konsep, merangkum materi, membuat power point, dan hal-hal yang berbasis ringan, singkat waktu, namun padat penuh dengan ilmu.

   Begitu pula ketika mengajar suatu pembelajaran, bagaimana cara agar siswa tetap fokus menatap gawai dan mudah memahami materi, menjadi pertanyaan yang belum juga rampung tuk dijawab dikedilemaan daring saat ini. Bisa dari power point yang unik, review materi, pandai-pandai membidik waktu kosong, dan tidak hanya berpatok berbagi tautan kopong.

3. Kesadaran pelajar

   Hal yang paling mendasar dari semua permasalahan dan penyelesaian tersebut berasal dari sisi intrinsik siswa itu sendiri. Dia ingin berusaha untuk belajar, atau memaksimalkan momen keterbatasan sebagai waktu tepat untuk studi permainan. 

   Sering sekali dijumpai di lapangan ketika daring telah digelar. Pelajar-pelajar yang mengaku dengan beralasan sulitnya koneksi dan tidak ada data, kemudian pergi ke warung kopi malah bermain game online sepanjang hari.

   Contoh kejadian lainya yang lebih sering dijumpai. Suatu hari disebuah keluarga ketika sang anak rebahan menatap layar dan memakai headset, kemudian disuruh oleh orang tuanya untuk membantu di dapur. Dia tidak mau beralasan banyak tugas, menyimak materi, padahal sedang melihat streaming idola mandiri.

   Miris banget gitu! Bahkan seusia SMP, SMA yang bisa dikatakan sudah bijak untuk memakai gawai, masih sering terlena dan masuk dalam lubang hitam pembuangan waktu dengan cuma-cuma.

   Kini untuk mengikat kendali, kembalilah pada orang tua sebagai pendamping sang buah hati. Menanyakan hal-hal yang mungkin diperlukan, memberinya dukungan dan semangat, membantunya menyelesaikan masalah pelajarannya, dan hal-hal lainya yang orang tua haruslah peka. Kemudian menyisihkan waktu untuk memantau sang buah hati tercinta. 

   Kesimpulanya adalah, gelap bukan berarti malam takkan berubah menjadi pagi. Semangat bermimpi perlu terus kembali dirajut, beriringan dengan harapan yang pernah dilengserkan. Marilah kembali kita bangun untuk tumbuh dan dikukuhkan, sebab esok pasti datang, dan kita benar-benar mapan dalam perencanaan. Kita telah bermetamorfosa menjadi kupu-kupu cantik, yang siap melangkah dari hari-hari pelik.

   Kepada para pemuda yang kini terbatas dengan keadaan yang ada, mari sama-sama sadar dan bersyukur masih bisa belajar. Di luar sana masih banyak yang belum beruntung, dan kita masih diupayakan untuk dapat belajar dalam keadaan apapun.

   Rentangkan tangan selebar mungkin, raih lambaian tangan perjuangan yang lain. Kita satukan visi, saling mengingatkan yang sudah menyimpang, saling mengukuhkan mimpi dan pencapaian. Kita bisa keluar dari keadaan terpuruk ini dengan kerja sama, bukan hidup sendiri dan menjadi sosialita. Sebab kita Indonesia; sebab gaya kita bhineka tunggal ika.

   Jangan mudah putus asa, tergelincir ke jurang di tengah perang melawan kemalasan, 
musuh terbesar kita adalah rasa malas, dan senjata terbaik adalah bermimpi, merancang, bertindak, dan mengevaluasi. Panjang umur perjuangan, semoga tercapainya setiap keinginan.

#LombaBlogUnpar #BlogUnparBelajarDaring

Daftar Pustaka :
https://kbbi.web.id/tugas

Daftar Gambar :
http://ilmukomunikasi.fph.ummgl.ac.id/hoby-yang-menjadi-prestasi.html

Posting Komentar

0 Komentar